Chronical Cubical
Sekarang saya lagi direpotin oleh kegiatan masang-masangin puzzle tentang sejarah. Sesuatu yang baru, susah, jadi belum juga dapat saya selesaikan. Buat selingan, saya pun ton2 film yang bau2 sejarah pula.
Awalnya, saya sama sekali tidak tertarik. Karena judulnya, saya jadi ogah2an ton2 film ini. Saya pikir …, Red Cliff? Jangan2 filmnya Stallone, nih?
Untunglah bukan.
Jelas bukan sebab film ini berasal dari daratan Cina. Mulai dari bahasa, pemeran, sampai cerita, semua dari Cina. Saya tidak tahu, barangkali film itu merupakan bagian sejarah Cina juga. Yang pasti, film Cina itu seru banget.
Bukan hanya pada bagian tengah, mulai dari awal, film ini sudah seru. Adegan peperangan bukan hanya mempertonton kan darah, kebengisan, dan kengerian. Akan tetapi, film ini juga menawarkan sisi kemanusiaan yang memikat.
Padahal, sebenarnya cerita film ini simpel saja. Ceritanya tentang usaha mempertahankan kerajaan dari keserakahan suatu dinasti. Namun, konflik itu dapat dikembangkan dengan hiasan adegan peperangan
Mirip seperti kebanyakan film dari timur, film ini kaya simbol dan kaya percakapan. Entah mengapa saya selalu merasa capek dengan percakapan dalam film Asia. Demikian pula dalam Red Cliff, saya juga merasa demikian. Pada waktu yang sama saya harus bekerja keras untuk menerjemahkan adegan kaya simbol dalam film itu.
Untunglah, keindahan gambar dalam film ini banyak menolong. Ada landskap yang indah, adegan kekuatan pasukan maupun armada laut, pemilihan pengambilan gambar, dan jalan cerita yang mengejutkan. Ada pula cerita heroik, romantis, dan cerita lucu sebagai sisi lain masing-masing tokoh dalam film ini yang cukup setimpal dengan kelelahan saya ketika mengikuti film ini. Tidak hanya setimpal, bahkan saya merasa lebih. Jika ada kesempatan, saya masih mau mengikuti film itu lagi.
Padahal, Red Cliff merupakan film yang panjang. Tidak cukup satu seri, film itu berkisah hingga 2 seri. Akan tetapi, sebenarnya belum selesai karena jalan hidup sang ahli taktik dan sang jendral belum berakhir. Cerita seperti terpotong oleh adegan sang ahli taktik dan Meng Meng pergi berlawanan arah dengan sang jendral dan istrinya. Rasanya masih kurang sebab sang jendral dan ahli taktik berjanji untuk berjumpa lagi walaupun dalam sisi yang berseberangan. Rasanya masih perlu beratus-ratus seri untuk mengisahkan salah satu sejarah di bumi.
Akan tetapi, film itu tetap berakhir. Boleh jadi karena masih banyak sejarah yang berserakan di bumi ini. Masih banyak sejarah yang tidak kalah menarik dengan sejarah diri kita masing-masing.
Misalnya sejarah antara saya dan kubikal saya. Jika diceritakan, pasti menarik hati, lo. Jika tidak percaya, ingat2 kembali! Sebelum ada saya, ada beberapa orang yang pernah bercokol di kubikal saya. Saya pun tidak langsung memperoleh kubikal saya. Saya memiliki beratus ribu episode cerita sehingga dapat berada di kubikal saya sampai sekarang.
Dahulu saya ada di sana. Sekarang saya ada di sini. Dahulu saya menghadap ke arah utara. Kubikal saya berbagi dengan sela di samping belakang tempat duduk teman saya. Karena bocor ketika hujan, kubikal saya dipindah sehingga menghadap timur sampai sekarang.
Di antara perihal yang berbeda, kubikal saya punya ciri yang sama: berantakan.
Hehehe …. Dari dahulu sampai sekarang sama saja. Saya suka menumpuk kertas dan buku dengan sembarangan. Saya juga suka meletakkan semua barang di atas meja karena semboyan konyol saya: efektif dan efisien.
Lalu …, setelah saya, bagaimana? Setelah saya, apa? Setelah saya, siapa?
Penasaran? See! Sejarah kubikal saya juga menarik! Saya jadi tidak sabar lagi buat mengikuti episode2 lanjut. Jadi …, teu2p ste cun ya!!! All be bek!!!*
^ _ ^
* Tetep stay tune ya! I’ll be back!!