d’ Bloggie

April 5th, 2009

Chronical Cubical

Posted by nin-nok in dark blue

Sekarang saya lagi direpotin oleh kegiatan masang-masangin puzzle tentang sejarah. Sesuatu yang baru, susah, jadi belum juga dapat saya selesaikan. Buat selingan, saya pun ton2 film yang bau2 sejarah pula.

Awalnya, saya sama sekali tidak tertarik. Karena judulnya, saya jadi ogah2an ton2 film ini. Saya pikir …, Red Cliff? Jangan2 filmnya Stallone, nih?

Untunglah bukan.

Jelas bukan sebab film ini berasal dari daratan Cina. Mulai dari bahasa, pemeran, sampai cerita, semua dari Cina. Saya tidak tahu, barangkali film itu merupakan bagian sejarah Cina juga. Yang pasti, film Cina itu seru banget.

Bukan hanya pada bagian tengah, mulai dari awal, film ini sudah seru. Adegan peperangan bukan hanya mempertonton kan darah, kebengisan, dan kengerian. Akan tetapi, film ini juga menawarkan sisi kemanusiaan yang memikat.

Padahal, sebenarnya cerita film ini simpel saja. Ceritanya tentang usaha mempertahankan kerajaan dari keserakahan suatu dinasti. Namun, konflik itu dapat dikembangkan dengan hiasan adegan peperangan

Mirip seperti kebanyakan film dari timur, film ini kaya simbol dan kaya percakapan. Entah mengapa saya selalu merasa capek dengan percakapan dalam film Asia. Demikian pula dalam Red Cliff, saya juga merasa demikian. Pada waktu yang sama saya harus bekerja keras untuk menerjemahkan adegan kaya simbol dalam film itu.

Untunglah, keindahan gambar dalam film ini banyak menolong. Ada landskap yang indah, adegan kekuatan pasukan maupun armada laut, pemilihan pengambilan gambar, dan jalan cerita yang mengejutkan. Ada pula cerita heroik, romantis, dan cerita lucu sebagai sisi lain masing-masing tokoh dalam film ini yang cukup setimpal dengan kelelahan saya ketika mengikuti film ini. Tidak hanya setimpal, bahkan saya merasa lebih. Jika ada kesempatan, saya masih mau mengikuti film itu lagi.

Padahal, Red Cliff merupakan film yang panjang. Tidak cukup satu seri, film itu berkisah hingga 2 seri. Akan tetapi, sebenarnya belum selesai karena jalan hidup sang ahli taktik dan sang jendral belum berakhir. Cerita seperti terpotong oleh adegan sang ahli taktik dan Meng Meng pergi berlawanan arah dengan sang jendral dan istrinya. Rasanya masih kurang sebab sang jendral dan ahli taktik berjanji untuk berjumpa lagi walaupun dalam sisi yang berseberangan. Rasanya masih perlu beratus-ratus seri untuk mengisahkan salah satu sejarah di bumi.

Akan tetapi, film itu tetap berakhir. Boleh jadi karena masih banyak sejarah yang berserakan di bumi ini. Masih banyak sejarah yang tidak kalah menarik dengan sejarah diri kita masing-masing.

Misalnya sejarah antara saya dan kubikal saya. Jika diceritakan, pasti menarik hati, lo. Jika tidak percaya, ingat2 kembali! Sebelum ada saya, ada beberapa orang yang pernah bercokol di kubikal saya. Saya pun tidak langsung memperoleh kubikal saya. Saya memiliki beratus ribu episode cerita sehingga dapat berada di kubikal saya sampai sekarang.

Dahulu saya ada di sana. Sekarang saya ada di sini. Dahulu saya menghadap ke arah utara. Kubikal saya berbagi dengan sela di samping belakang tempat duduk teman saya. Karena bocor ketika hujan, kubikal saya dipindah sehingga menghadap timur sampai sekarang.

Di antara perihal yang berbeda, kubikal saya punya ciri yang sama: berantakan.

Hehehe …. Dari dahulu sampai sekarang sama saja. Saya suka menumpuk kertas dan buku dengan sembarangan. Saya juga suka meletakkan semua barang di atas meja karena semboyan konyol saya: efektif dan efisien.

Lalu …, setelah saya, bagaimana? Setelah saya, apa? Setelah saya, siapa?

Penasaran? See! Sejarah kubikal saya juga menarik! Saya jadi tidak sabar lagi buat mengikuti episode2 lanjut. Jadi …, teu2p ste cun ya!!! All be bek!!!*

^ _ ^

* Tetep stay tune ya! I’ll be back!!

April 5th, 2009

Belajar Menepati Janji

Posted by nin-nok in yellow

Gara-gara punya penyakit lupa stadium 5, saya keranjingan makan minyak ikan. Saya menemukan saran itu dari internet. Walaupun takut berefek pada berat badan karena menimbulkan nafsu makan, saya jabanin aja karena berharap penyakit lupa saya segera berkurang.

Biasanya saya lupa membawa barang penting yang harus saya bawa, seperti jas hujan, mukena, alat tulis, hp, sampai dompet yang berisi SIM. Kebangetan, kan? Saya juga suka lupa ketika kudu melakukan sesuatu. Kalau hanya berefek pada saya, tak apalah. Akan tetapi, kalau yang terkena orang laen, semacam teman saya atau orang lain yang sudah janjian dengan saya. Wah, tambah kebangetan, kan?

Oleh karena itu, usaha saya tidak cuman lewat makanan. Saya juga berusaha belajar menepati janji. Walaupun dipaksain dan kadang ngorbanin kanan kiri, tak apalah. Yang penting saya sudah berusaha mengurangi penyakit lupa saya.

Hasilnya …, sangat memuaskan. Saya merasa hebat sebab tidak lupa2an lagi. Saya juga gembira sebab dapat menghabiskan waktu dengan teman-teman saya. Enaknya …, jauh dari penyakit lupa.

Benar-benar enak, lo. Misalnya kemaren Minggu sewaktu saya bisa maen ke sebuah supermarket besar bareng seorang sahabat dengan putrinya. Brangkat pagian, gak berasa, tiba-tiba sudah siang.

Sekarang pun masih membekas karena suatu guyonan saya. Saat itu kami: saya, sahabat saya, dan putrinya sudah ada di dalam gedung pusat perbelajaan. Melihat suasana sekitar, sahabat saya yang sedang menggedong putrinya nyeletuk, “Kok banyak bebi siter, yak?”

Saya balas, “Nah, di sini juga ada,” sambil menunjuk teman saya dan tersenyum-senyum licik. Sahabat saya melihat kepada putrinya yang cantik dalam gendongannya. Seperti tersadar, menjawab,“Eh, … o, iya ya …” sambil ikut tersenyum dengan melas. Hehehe … tahu kan yang saya maksud?

Sehari sebelumnya saya juga melewatkan waktu dengan sahabat yang lain. Iseng saja, saya ingin mencobai bioskop lama yang baru di Jogja. Tenyata bioskop ini bener2 cinta bumi. Sttttt …. bioskop ini sering kali matiin listriknya. Jadi, besok2 kl mampir ke bioskop ini …, jangan lupa bawa senter, yak!!! Hehehe

Awalnya saya pengin ton2 Kambing Jantan. Akan tetapi, tidak jadi. Karena testimoni dari seorang sahabat di kantor dan jam tayang film itu terlalu lama, saya memutuskan menonton Dragonball.

Jadilah kami menonton Dragonball karena sahabat saya manut2 aja. Filmnya lumayan, better than say under average. Hehehe …, tak apalah. Itung2 buat hiburan dan nostalgia pas heboh2nya Dragonball zaman saya SMP dahulu.

Sayang sungguh sayang, eman2 pada nama besar film kartun Dragonball, film itu mirip dengan film kebanyakan yang berasal dari novel, buku cerita, maupun novel. Mereka selalu kesulitan mewujudkan para tokoh yang sesuai. Dengarkan pendapat sahabat saya, “Burma-nya kurang seksi!!!” Woo ….

Selain itu, durasi film benar-benar mengoyak-koyak alur film ini. Tiba-tiba ini dan tiba-tiba itu. Tiba-tiba Goku berusia 18 tahun. Tiba-tiba kakek Gok, Gohan, meninggal. Tiba-tiba datang musuh Goku yang menginginkan ketujuh bola. Tiba-tiba datang Burma. Tiba-tiba mereka terlibat dalam pertempuran buat memperebutkan ketujuh bola yang dapat mengabulkan satu keinginan itu. Agak terbata-bata, saya mencoba mengingat tokoh dan alur utama. Bagaimanapun sama, film bioskop itu berbeda dengan film seri yang sempat saya ton2 dahulu.

Untung saja, ada sesuatu yang dapat saya pelajari dari film ini. Salah satunya adalah kata-kata yang diucapkan oleh master atau guru Goku yang diperankan oleh Cow Yung Fa. Kata itu berbicara tentang masa depan yang dapat diubah. Dengan usaha, masa depan dapat diubah, bukan berubah.

Maka dari itu, saya masih berusaha belajar menepati janji. Saya pun ingin mengubah nasib. Kalau saya tidak menepati, mungkin nasib saya tidak berubah, mungkin sahabat-sahabat saya bakal kecewa dan marah. Demikian pula sebaliknya ….

Sebaliknya? Sebaliknya, nasih saya dapat berubah. Sebaliknya juga, saya bakalan repot buat menepati janji2 saya. Hehehe

April 5th, 2009

Ganjilllll!!!

Posted by nin-nok in green

Seorang sahabat ngakak sewaktu saya nimpali dengan kata ajaib itu. “Ganjilllll!!!”

Dia merasa geli karena saya memakai kata yang tidak biasa. Biasanya orang berkata, “Kecillll!!!” untuk menyepelekan sesuatu. Akan tetapi, saya pakai, “Ganjilll”.

Sudah pasti kata ajaib itu bukan ide saya. Saya cuman minjem kata ponakan saya. Saya dapet sewaktu kemaren saya maen ke Surabaya.

Yup, surabaya. Kota yang masuk di wilayah Jawa Timur itu terkenal panas dan gerah. Akhir-akhir ini, banjir dan hujan lama juga familiar di kota yang ditinggali keluarga kakak saya. Pada daerah-daerah yang beruntung, banjir dapat mencapai kedalaman satu meter lebih, lo. Hebat!!!

Alhamdulillah …, sewaktu saya maen kemaren, saya tidak menjumpai luapan air itu. Selain karena rumah kakak saya bukan kawasan banjir, suasana aman karena tidak ada hujan lama. Saya pun sempat mampir ke beberapa pusat keramaian kota. Belanja, makan enak, dan mengicipi es krim tempo doeloe di depan gedung pemuda (nama resto itu aneh …, bikin saya lupa :”)

Saya bohong, dink. Saya memang ketawa banyak, melihat banyak, dan makan banyak. Juga hujan memang tidak menyapa. Banjir pada ngacir. Akan tetapi, suasana di sana jauh dari aman dan senyaman di sini.

Akan tetapi, kepala saya pusing ketika menjadi bagian kemacetan di perempatan pasar. Perut saya mual melihat gumpalan dan warna kehitaman di sepanjang sungai. Mata saya berkunang-kunang karena deretan rumah dari papan dengan hiasan anak-anak kecil berkaus singlet.

Perasaan yang sama ketika saya menonton Slumdog Millioner. Hampir seluruh adegan tragis dalam film itu bikin pusing, mual, dan mata berkunang-kunang. Apalagi adegan ketika Jamal berusaha mendapatkan tanda tangan Amitabachan …, eugghhhhh!!!!!!

Padahal, film itu punya rasa yang berbeda. Film itu lebih dari ganjil dan sama sekali tidak biasa. Dari sudut cerita, film itu menawarkan alur yang rumit. Jika beberapa film yang saya lihat akhir-akhir ini menawarkan hanya alur flash back, Slumdog menyajikan alur melompat yang spektakuler. Dari pertanyaan, mengapa Jamal dapat memenangkan quiz, film itu bergerak ke ruang kantor polisi, lalu ke masa kecil Jamal, lalu kembali lagi ke ruang studio quiz, kembali lagi ke masa kecil Jamal, demikian seterusnya. Sungguh satu lompatan yang tajam menyambung dan berarti banyak pada lompatan peristiwa selanjutnya. Rumit, namun menawan.

Alur dalam film itu memang tidak merepotkan. Mengapa demikian? Hal itu tak lain karena pengambilan gambar yang menawan. Kadang ditimbulkan kilatan-kilatan aneh yang menandai flash back. Kadang gambar dibuat muram. Kadang gambar tampak sedemikian ceria.

Dengan dukungan gambar yang menawan, alur itu dapat bergerak dengan elegan. Ada gambar yang diambil dari sudut yang unik. Cerita pun lebih mudah dipahami karena gambar tersebut. Menyambung-memotong-meloncat-menjalin, semua tahapan alur itu dapat membangun benang merah yang menjawab pertanyaan utama, “Mengapa Jamal dapat memenangkan Millionare?”

Akan tetapi, itu semua hanyalah penilaian saya. Penilaian penonton kecil yang belum tahu banyak tentang perfileman, cuman teu2p nekad ikutan komentar. Hehehe …

Namun tak mengapa sebab ada banyak kepala di bumi ini. Kadang paham, kadang hanya lewat, bahkan sama sekali tidak paham. Bukan keganjilan jika semua saling memiliki perbedaan maupun kesamaan isi kepala.

Contohnya ketika sahabat saya tidak berhasil mempopulerkan ujaran “Ganjiiilllllll!!!” itu. Ada yang menjawab, “Genappp!!!” Ada pula yang melongo. Ada pula yang tanya langsung sebab tidak paham pada omongan teman saya. Hehehe ...

Semua orang memang punya pemikiran masing-masing. Kadang sepaham dengan saya. Kadang lain berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saya. Tinggal saya yang ngeyel dan teu2p bilang, Ganjiiiiiiiillllllllll!!!!”

March 9th, 2009

Grow Old

Posted by nin-nok in green

Seorang sahabat menertawakan saya ketika tidak sengaja saya menumpahkan pelembab. Dia bilang, “Kek gini kok tiga puluh taon. Pantesnya tiga tahun!!!” Saya hanya bisa nyengir hippopotamus. Hehehehe ….

Tau kan hippopotamus? Kalo di Madagaskar 2, ada yang namanya Gloria dan Moto Moto. Kedua tokoh dalam film itu memang super lucu walopun keduanya tidak melawak.

Seperti film lain produksi Hollywood, Madagaskar 2 menawarkan ide cerita yang menawan, selain hiburan yang super duper lucu. Ada pelajaran dan petuah yang berat di balik cerita ini. Boleh ditonton jika belum percaya.

Sebagai icip-icip, saya cerita sedikit, ya. Berawal dari penculikan si Alex, lalu film ini berlanjut ke adegan perjalanan hidup Alex di kebun binatang New York. Hidup terkenal dan dielu-elukan malahan tidak memauskan Alex dan teman-temannya. Lalu, mereka pun bertualang.

Penerbangan bersama pasukan penguin yang ingin membuktikan bahwa burung penguin bisa terbang pun dimulai. Alih-alih sampai tujuan, pesawat yang ditumpangi Alex dan kawan-kawan tertambat di Madagaskar, hutan tempat orang tua Alex hidup.

Mulai dari sini dimulai pulalah cerita pencarian diri Alex. Alex yang bukan bayi lagi. Alex yang sudah tumbuh dan Alex yang harus memimpin karena ialah anak pemimpin.

Karena bagian itu, saya pun menyadari menjadi tua itu bukan sekadar waktu yang berlalu. Bukan pula sekadar panggilan yang berubah. Grow old is grow perfect.

Boleh jadi, itulah yang menghantui saya. Semakin lama beradu dengan hari, semakin bulat pula saya pada kesimpulan tersebut. Orang tidak dapat memaklumi ketidaksempurnaan ketika seseorang sudah tua, demikian pula sahabat saya.

March 9th, 2009

BOGOREFORIA

Posted by nin-nok in yellow

Setiap Sabtu dan Minggu saya punya jadwal khusus untuk membeli sebuah harian nasional. Sabtu karena banyak iklan lowongan pekerjaan. Minggu karena memuat beragam artikel yang menarik minat saya.

Akan tetapi, Sabtu kemarin saya merasa sedikit ragu. Benaran nih mo beli? Apa ada lowongan yang menarik? Apa nantinya berguna? Apa nantinya cuma sia-sia dan jadi rumah laba-laba di bawah meja setrika?

Pikiran itu segera terbang dari kepala saya ketika menerima sebuah sms. Seperti biasa, saya harus menjemput keponakan saya. Daripada menghabiskan waktu dengan hanya menunggu, saya pikir lebih baik saya menghabiskan waktu dengan membaca koran hari itu.

Jadi, tujuan saya membeli koran berbeda dengan tujuan saya membeli pada waktu yang sudah-sudah. Sabtu kemarin saya tertarik membaca karena melihat halaman pertama koran itu. Liputan dan foto konser Jason Mraz-lah yang dapat menarik hati saya.

Singkat baca, konser itu menarik sekali. Gelaran konser jazz dengan penyanyi yang masih up date. Lagunya enak-enak pula.

Sambil membaca, saya bayangkan saya ada di antara kumpulan penonton di deretan pertama. Berdesakan namun tetap menikmati suasana. Menyatukan hati dan selera sambil bersenandung …

Well it kind of hurts when the kind of words you say

Kind of turn themselves into blades

And kind and courteous is a life I’ve heard

But it’s nice to say that we played in the dirt oh dear

Cause here we are, Here we are

Here we are

Here we are

Here we are

Here we are

Here we are

Here we are

Here we are

We’re still here

What a beautiful mess this is

It’s like taking a guess when the only answer is yes

And through timeless words, and priceless pictures

We’ll fly like birds not of this earth

And times they turn, and hearts disfigure

But that’s no concern when we’re wounded together

And we tore our dresses, and stained our shirts

But it’s nice today, oh the wait was so worth it

Hmmm …, sedikit berubah selera? Tak apalah ….

Boleh jadi, saya memang sedang dilanda euforia.

Dahulu ketika teman di belakang meja saya selalu mengulang-ulang lagu Mraz, saya sama sekali tidak tertarik. Pertama kali mendengar lagu Im Yours sama sekali tidak membekas di telinga saya, kecuali rasa aneh. “Lagu yang aneh.”

Bolehlah didengarkan kembali jika kurang percaya. Rasa jazz dicampur seperti rap karena ada lirik dinyanyikan dengan terlipat-lipat, mirip rap.

Kemudian, saya mencoba menikmati lagu lain dalam album itu. Hanya, “Lumayan,” komentar saya. Waktu itu saya hanya tertarik duat Mraz dengan Colbie Collie. Bukan menyukai album Mraz, saya malah kecanduan dengan album Collbie.

Seiring dengan waktu, saya mulai tertarik dengan A Beatiful Mess. Mendayu-dayu, tetapi kuat dalam lirik. Ketika memnyanyi, saya membayangkan sedang membaca sepotong puisi lirik. Belum lagi pemilihan rima yang cocok. Really beatiful … Selanjutnya, saya mulai suka Live High, You and I Both, so on … so on … saya suka semua.

Lalu, terdengar kabar konser Jason Mraz. Meski hanya berita dan liputan-liputan yang bisa saya ikuti, tetap saja brasa kena euforia, deh. Hehehe

Mirip sekali dengan kejadian di idup saya sebulan belakangan ini. Tenggelam dalam kesibukan hampir meredupkan semangat saya atas masa depan. Saya pikir jika dapat berlari dengan arah yang lurus, mengapa harus berpayah-payah mencari jalur yang berbelok?

Akan tetapi, tawaran itu datang tiba-tiba seperti riang bel pulang sekolah. Setahun terakhir ini saya sudah terjebak dalam rutinitas. Mimpi tiga tahun yang akan datang seperti tak berbeda dengan hari ini. Tidak mengharankan bila sebulan kemarin saya belum tertarik masuk dalam parit, melompat rel kereta, menyusuri jalan yang berlubang-lubang, maupun terjun ke dasar laut yang paling dalam untuk mengabulkan mimpi dalam kehidupan.

Namun, setelah sudah dan setelah berlanjut, muncullah godaan dalam batin saya. Campuran antara rasa sombong, takabur, pasrah, keinginan sangat, keceriaan, kebodohan, lagu yang paling merdu, keegoisan, keculasan, sampai mimisan itu menggedor-gedor alam bawah sadar saya. Mereka semua berteriak-teriak mengingatkan saya. “Salah satu yang dapat mewujudkan mimpimu adalah usahamu hari ini.”

Maka saya berlari. Saya mengelas wajah saya. Saya membawa bertumpuk-tumpuk bekal. Saya juga memasangkan berlapis-lapis kotak pada dada saya. “Just in case if i hurt.”

Akhirnya, saya memang terluka. Saya memang gagal, bukan hanya merasa gagal. Mimpi hari itu sebagian harus saya hapus kuat-kuat dari kepala saya.

Saya yang gamang pun bingung berat, “Bagaimana caranya?” Padahal, saya sudah bersusah payah menumbuhkan keinginan yang sangat pada mimpi itu. Boleh jadi, inilah letak kesalahan saya. Saya menjadikan mimpi sebagai keinginan sangat. Ketika saya tidak dapat meraihnya, mimpi itu jadi bumerang yang menghantui saya.

Saya lelah tiarap tiap kali bumerang itu datang membabat aktivitas saya sehari-hari. Lumayan mengganggu sebab semua kejadian itu sudah hampir sebulan. Walopun saya bawa tertawa, bernyanyi, maupun berdiam diri sambil mengambil napas kuat-kuat, saya masih merasa disisihkan.

Semakin gawat, bahkan terbawa dalam igauan. Aduh, malunya saya sebab igauan itu sempat diketahui seorang sahabat yang hobi bercerita, betapa pun memalukan kejadian itu. Semoga beliau tidak bercerita kepada siapa pun …, Ammmiiiiiiiiinnnnnnnn ….

Nah, inilah jurus terakhir saya: menuliskan kekesalan saya dalam blog. Bukan berharap ribuan orang membaca and give their comments, saya cuman butuh satu malaikat yang membaca dan menyampaikan sebagian doa saya. Mana tahu ada doa lain yang dikabulkan …, Ammmiiiiiiiiinnnnnnnn ….

Di samping itu, harapan utama saya adalah dapat menghilangkan kotak besi dari kepala saya. Enak sekali jika punya kepala seringan balon. Saya dapat menertawakan diri sambil mengatakan kalau kejadian kemarin hanyalah bogoreforia, bogoreforia, bogoreforia, bogoreforia, bogoreforia, bogoreforia, bogoreforia, bogoreforia. Yup, kejadian kemarin hanya sepotong bogoreforia.

Sekarang sungguh saya berharap, hidup saya pun dapat melaju ringan. Jauh dari igauan. Jauh dari kepala berat. Seriang dan seringan ketika saya mendesaukan lagu Mraz,

Live high

Live mighty

Live righteously

Takin’ it easy

Live high

Live mighty

Live righteously

And singing out

And just take it easy

And celebrate the malleable reality

You see nothing is ever as it seems

Yeah this life is but a dream

February 23rd, 2009

Rewind and Review

Posted by nin-nok in dark blue

Sebelum bosan, saya suka mengulang-ulang lagu kesukaan saya. Biasa sekitar seminggu saya suka mengulang satu folder lagu. Sesudah itu, saya akan mencampur-aduk lagu lama dengan lagu baru yang sudah mulai usang di telinga saya.

Lalu, saya memperoleh lagu baru. Saya ulang satu folder itu selama kurang lebih seminggu. Setelah itu, saya campur dengan lagu yang agak lama. Demikian seterusnya, rewind and rewind.

Seperti sekarang ini, saya lagi seneng banget nguping lagu-lagunya OneRepublik. Walo gak tau penyanyinya single or group musik yang macam apa dan berasal dari mana, saya tidak peduli. Saya hanya tau, lagu-lagunya keren dan lumayan buat di kuping.

“ … until then come home … come home …

cz im been waiting you for long time … long time …”

Sebelum ini, saya suka dengan soundtrack Madagaskar 2. Beat lagunya enak dan lucu-lucu. Kalau sempat, simak lagu sewaktu Moto Moto merayu Gloria atau lagu petualangannya Alex.

i luv the big … i luv the chungky …

… see, i been travelling … been travelling for ever

but now that i find home … feel like im heaven … feel like im heaven

Sebelum ini, saya suka mc2-nya Mariah Carey. Sebelum itu, saya suka soundtrack-nya The 1st Prince Coffee. Sebelum itu, saya suka lagu zadulnya Silverchair.

Buanyak, ya? Pantas saja, seorang teman mengomentari tabungan lagu-lagu saya. “Menuh-menuhin kompi itu, Mbak?”

Akan tetapi, saya teu2p keu2h nyimpen itu semua. Saya juga teu2p keu2h mengulang-ulang lagu2 itu. Bagi saya, kegiatan ngulang-ulang itu penting, lo.

Ngulangi gak hanya bikin bosan. Akan tetapi, ngulangi juga bikin hapal. Selanjutnya, saya bisa punya pandangan untuk mereview perulangan itu.

Demikian juga pada kegagalan. Bukan hal yang tabu bagi saya untuk mengulangi kegagalan. Meski pait banget, ternyata lebih plong mengulangi kegagalan daripada tidak pernah mencoba sama sekali. Saya jadi punya pengalaman. Dengan begitu, saya bisa mereview supaya tidak mengulangi kegagalan itu lagi.

Meskipun yaaaaaaaa, rasanya eughhhh!

Meskipun huhuhuhuhuhuhuhuhuhuuhuhu … huaaaaaaaaa … srooottttttttttt

Huhuhuhuhuhuhu …. huaaaaaaaaaa … huaaaaaaaaaa

Aku abis gagal …, lagi!!!!!!!!!

February 23rd, 2009

Lagu Lama pada Cerita Lama

Posted by nin-nok in green

Lelah, lemas, dan mengantuk adalah tanda-tanda kegiatan di malam hari alias begadang. Saat itu mata tidak dapat dibuka. Mulut terus minta menganga, minta menguap. Lalu, badan minta direbahkan.

Inilah yang terjadi beberapa hari lalu. Ada dua pilihan yang saya bingungkan sehingga mengganggu jam biologi stidur saya. Setrikaan sudah saya licin tandaskan dan kamar sudah saya rapaikan, tetapi mata belum mau terpejam. Bukannya memaksa tidur, malahan saya ambil flashdisk dan menyalakan kompi. Seingat saya, tadi siang saya dapat file film dari seorang sahabat.

Sayangnya, film itu jauh dari menarik. Alih-alih bisa menjadikan inspirasi seperti yang biasa saya peroleh dari setiap film yang saya tonton, film itu malahan membuat saya semakin bosan. Film apakah itu?

Judulnya Contact. Awal film biasa dan datar. Selanjutnya, terasa tidak mengasyikkan. Baik aktor dan aktris, pengambilan gambar, maupun tema cerita, sama sekali tidak keren.

Menurut saya yang paling ancur adalah tema cerita. Tema itu terasa seperti sebuah lagu lama dalam sebuah cerita lama. Walaupun masih baru atau sudah lama, cerita terasa seperti sebuah cerita lama gara-gara tema yang zadul.

Agar tidak penasaran, garis besar tema itu adalah sebagai berikut. Seorang penjahat kelas kakap yang nyaris gagal melakukan misi kejahatannya versus seorang bapak (single parent) yang berusaha menunjukkan kewibawaan kepada anak semata wayangnya. Entah mana yang menang, saya tidak kuat menahan bosan sehingga setengah film pun tidak sempat saya buka.

Padahal, jika mau jujur, hidup ini adalah pengulangan lagu-lagu lama pada cerita-cerita lama. Kerap ditampilkan di televisi maupun novel, perjuangan seseorang dari bawah sehingga dapat menjadi pemimpin besar maupun seseorang yang kaya raya. Ada pula cerita tentang seorang populer ataupun kaya raya. Lalu, hidup dengan ketiadaan pada masa tuanya.

Masih ada lagu lama lain, misalnya tentang cerita pembelian tanah. Hanya berbekal kepercayaan sesama tetangga ataupun sahabat, sesorang membeli tanah tanpa surat tanah. Hari berganti, waktu berlalu, ternyata ada takoh antagonis yang berusaha mengguncang kepercayaan tersebut. Ia berusaha meminta uang tanah sebab keluarga pembeli tanah tidak dapat menunjukkan bukti kepemilikian tanahnya.

Meski terasa klasik, cerita itu benar-benar terjadi, lo. Bagaimana jika andalah yang mengalami kejdian itu? Tidak bersalah, namun ditodong? Boleh jadi, bakal sedikit kelabakan, ya?

February 23rd, 2009

Marching Band Tujuhbelasan

Posted by nin-nok in yellow

Tepuk tangan membahana. Sang pembawa acara memanggil seorang aktris cantik, Gweneth Pattrol. Tepuk tangan masih membahana saat si cantik memamerkan senyum.

Si cantik membuka dengan sepenggal lirik. Dia mengatakan jika lagu itu merupakan salah satu lagu yang memperoleh penghargaan musik tahun ini. Entah untuk si cantik atau untuk kelompok musik yang dimaksud si cantik, tepuk tangan membahana kembali.

Apakah Anda tahu lagu yang dimaksud? Jika mengikuti acara Grammy Award, Anda pasti tahu. Yup, then 15 steps from Radiohead got loud out.

Meski lagu lama, 15 steps selalu keren. Beat lagu ini sangat bisa menggugah mood yang lagi kacau. Sang lirik juga tidak main-main, kaya makna. Masih ada lagi, tekanan-tekanan nada pada lagu ini ajaib.

Jadi …, saya keliru! Saya keliru bilang lagu ini lagu lama. Keknya 15 steps dipoles terus. Setelah sempet dimainin di perform Radiohead in Basement, lagu ini juga dijadiin soundtrack film. Kalo penasaran, perhatiin deh, bagian akhir film Twilight!

Nah, pada perform di panggung Grammy 2009 15 steps kedengeran makin cling saja. Tentu saja karena perform Thom York dan temen-temannya yang all out. Ditambah pula dengan perform marching band di belakang Thom.

Jadi keingetan marching band tujuh belasan. Eugh …, Agustus kapan, ya? Bulan baru kapan, ya? Gajian kapan, ya? Hehehe ….

January 27th, 2009

Bolehhhh ….

Posted by nin-nok in yellow

Adakah di antara anda dan kalian semua yang dahulu (atau sekarang? nderek …) sewaktu remaja sering mengirimkan salam, ucapan, atau ikutan kuis di radio? Jika iya, jangan pernah menyesal. Sebabnya, saya juga!

Maksud saya, dahulu saya juga demikian. Saya pernah dua kali dapat kaset (kaset, bo, kaset!! Hareee genee, kaset, bo!) dari Radio G (tiiiiiitttt!!!). Saya juga pernah dapet duit dari radio yang sama dan radio P (ttiiiitttttt!!!!). Lumayan, bukan?

Tentu saja selain ikut kuis, saya juga suka nimbrung opini maupun nitip salam ke radio-radio fave saya. Kadang pula minta lagu. Kalo sampe dibacain, pa lagi lagunya diputerin, brasa girang buangettt!!!

Nah, tadi malam keisengan itu tumbuh lagi. Tiba-tiba saya jadi pengin nimbrung opini. Maka saya siapin hape. Saya simpen nomor radio itu, lalu saya tulis opini dan kirimkan ke radio itu. Tunggu punya tunggu, kok belum dibaca, ya? Pagi-pagi saya baru ingat dengan keisengan saya. Yahhh, lima ratus perak melayang sia-sia, deh!!!

Sebentar-sebentar …, keknya mesti ada satu kata di atas yang mesti saya lurusin. Khusus untuk yang tadi malam, keknya bukan keisengan deh. Kalo yang zaman dahulu2 bolehlah disebut keisengan, tapi yang tadi malem keknya bener-bener dedicated to my mom.

Brasa ibu saya bisa ndengar di sana, saya sms ke penyiar yang narik opini tentang kangen pada ortu. Tau isi sms saya? Jika iya, hebat banget. Salah seorang temen yang mengalami kejadian itu bareng saya pun, sampai saat itu gak tau napa tiba2 saya termehek2 di teras sebuah masjid.

Kejadiannya cepet banget. Waktu itu, saya brasa gak sadar kalo termehek2 dan gak bisa distop. Hehehe …, cengeng ya.

Setelah saya usut-usut lagi, saya inget. Saya menangis tiba-tiba karena tiba-tiba pula di depan saya ada pemandangan yang membuat saya dicengkeram kangen yang dalam pada ibu saya. Tepatnya, waktu itu saya melihat sepasang anak dan ibu yang mesra sekali. Entah mreka berbuat apa, saya sudah lupa. Yang jelas pada waktu itu saya brasa dicekik dan menangis tak bisa saya hentikan.

Boleh jadi, pengaruh bergayut di perut ibu dalam waktu yang tidak sebentar membuat sebuah jalinan yang gak keliat mata antara anak dan ibu. Bukan cuman anak yang merasa, ibu juga bakal nglakuin apa aja demi anaknya. Sudah bukan berita baru lagi kalau ada seorang ibu yang bersedia mengorbankan ginjal demi anaknya.

Juga sudah lagu lama jika seorang ibu rela begadang setiap malam demi menemani anaknya. Ketika sehat, ketika sakit, si ibu rela demi anaknya. Tidak heran, seorang sahabat bisa menjadi sedemikian keibuan karena anaknya. Hmmm …, so sweettttt!!!

Itulah juga yang dilakukan ibu Holly dalam PS. I Love You. Demi anak, beliau bersedia bekerja sama dengan menantunya. Dia kirimkan satu demi satu surat yang berarti banyak untuk anaknya. Padahal, si ibu tidak begitu suka walaupun tidak benci kepada si menantu.

Di akhir cerita baru si Holly dapat menyadari tentang segala pengorbanan ibunya. Di akhir cerita pula saya menyadari bahwa film itu gak sekadar punya pesan cinta buat pasangan. Film ini juga punya pesan cinta antara ibu-anak serta persahabatan.

Jadi, menurut saya, PS. I Love You itu tidak sekadar romantis, lo. Lucu dan inspired merupakan bonus besar dalam film ini. Selain itu? Termehek-mehek? Bolehhhh ….

January 27th, 2009

HAAA!!!

Posted by nin-nok in green

HAAA!!!

Inilah ekspresi saya ketika kaget. Saya benar-benar kaget sekaget-kagetnya karena benar-benar kaget. Padahal, kalau dipikir-pikir keknya gak perlu-perlu banget, deh, kaget. Setiap hari, setiap kali waktu berganti, berganti pula peristiwa dan cerita. Kadang-kadang critanya juga tidak baru, hanya perulangan saja. Wajar, bukan?

Bisa bukan dan bisa juga tidak bukan karena wajar atau tidak wajar memang subjektif. Penilain itu juga dapat bercampur dengan nilai-nilai sosial yang dianut. Ketika waktu berganti, kebutuhan berganti, yang dikejar berganti, ikut berganti pulalah nilai-nilai sosial yang dianut.

Ehm …, kok jadi sok iyes gini saya? Padahal, saya cuman mo crita sepenggal nilai yang saya tangkep dari suatu film. Kebetulan, ada suatu adegan yang bersangkut dan berpaut dengan kejadian di idup saya akhir-akhir ini.

Mau tau film apa itu? Kalau mau, harus inget postingan saya beberapa waktu lalu. Di page itu saya crita kalo njadiin taruhan sebuah film Korea.

Nah, film itulah yang baru-baru ini sempet saya tonton. Agar gak jadi iklan, saya gak bakal nyebut judulnya. Saya cuman mo bilang sedikit jalan critanya biar gak penasaran2 bgt.

Critanya tentang seorang ce yang nyamar jadi co demi jadi seorang barista di sebuah kedai kopi. Critanya full lucu walo tema critanya dah jadi jamak buat film Korea. Buat yang sering liat film Korea, slalu bisa nemuin tema tentang perbedaan kelas dan perbedaan pendangan idup tua dan muda serta jalan keluar yang berupa cinta.

Tapi, jangan salah! Film ini kaya adegan, lo. Gak cuman mehek2 yang elek2 (tag line ini cuman minjem dari salah satu brita di Kompas Minggu ini, lo!), ada juga adegan lucu, inspired, dan …., romantisss.

Salah satu yang kesisa dalam otak saya waktu si ce secara gak sengaja njatohin biji2 dari kantong yang ia bawa. Critanya mreka bdua lagi marahan. Nah, si co gak tau kl itu kerjaannya si ce. Karena penasaran, si co ngambilin biji2 yang membentuk jejak.

Waktu tau biji2 yang ia bawa jatoh, si ce ngambilin biji2 yang jatoh. Bisa ditebak, mreka berdua ketemu dalam pose ngantongin biji dengan kaos mereka. Lalu? Baekan, deh. Hehehe …, keren, keren, keren!

Tentu saja adegan itu bukan adegan yang berkaitan dengan sesuatu yang bikin saya terkejut. Kebetulan adegan yang saya maksud itu bukan diperankan oleh si ce, lakon dalam film itu. Akan tetapi, adegan itu diperanin oleh tokoh lain, ce sewaktu mempurpose co-nya.

Tokoh itu mengatakan kalau ia menikah bukan karena mengandung. Justru, anak yang dia kandung itu yang membuat dia menikah. Agar mereka selalu bersama dan gak putus-nyambung2 lagi, mreka butuh ikatan. Jadi, menikah adalah ikatan buat mreka.

Ehm, saya memang terinspirasi pada sebuah ide (yang menurut saya) baru itu, ide atau pemikiran tentang apologi menikah setelah mengandung. Ide itu dapat menghapus 25% pikiran miring saya pada menikah setelah mengandung. Jujur dan harus jujur, walaupun sedikit, pikiran miring itu pasti mampir ke kepala saya, anda sekalian, maupun siapapun yang mengetahui berita tentang menikah setelah mengandung.

Ide dalam film itu memang bisa disebut apologi. Namun, apologi itu paling pantas bagi saya. Selama ini, saya tidak pernah memperoleh apologi yang paling soft dan elegan, selain demi kepentingan keluarga dan agama.

(Dengan segala hormat kepada nilai-nilai agama, menurut saya, mempertanyakan menikah setelah mengandung bukanlah usaha untuk mempertanyakan nilai-nilai agama. Sekali lagi, dengan segala hormat kepada nilai-nilai agama, saya mempertanyakan sebab bagi saya nilai kemanusiaan itu penting.)

Aih ..., saya sok iyes lagi! Padahal, saya cuman mo bilang bahwa saya gak perlu sgitu kagetnya waktu ndengar brita pregnancy. Toh, saya sudah paham dan dapat memahami dengan apologi dari film Korea yang sudah saya tonton.

Beruntung memang, saya suka nonton film Korea. Biapun dengan berbagai pengorbanan dan perjuangan, saya bisa dan sempet liat film itu. Selain hiburan, saya dapat satu pelajaran. Ide dan pemikiran yang berharga: aja gumunan*!

Hehehe ….

* Jika tidak tahu artinya, coba tanya kepada orang Jawa atau orang yang bisa berbahasa Jawa. Jika tidak, search aja! Beyesss!

Next Page »